Monday, October 7, 2019

Manusia dan Cinta Kasih


MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN CINTA KASIH




https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/19/Logo_Gunadarma.jpg




DISUSUN OLEH :
ALYA APRILIYANTI
10519606
1PA04









PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019











Kata pengantar

  Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah yang berjudul “Manusia Dan Cinta Kasih” ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa saya  juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

    Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya  yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.Terima Kasih.


Depok, 07 Oktober 2019


Alya Apriliyanti
10519606









BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dari jaman dulu sampai sekarang hakikat cinta kasih masih menjadi perbincangan yang tidak dibatasi secara jelas dengan makna yang luas pula. Walaupun, sulit juga untuk diungkapkan dan diingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang cukup fundamental. Begitu fundamentalnya sampai-sampai membawa Khalil Gibran, seorang punjagga terkenal, berpendapat bahwa “Cinta hanyalah sebuah kemisterian”. Cinta sangat erat dalam kehidupan dan tidak bias di pisahkan dalam kehidupan. Tidak pernah selintas pun orang berpikir bahwa cinta itu tidak penting. Mereka haus akan cinta, mereka butuh akan cinta.
Kendati pun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu,  cinta bisa diibaratkan sebagai suatu seni yang sebagaimana bentuk seni lainnya sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk bisa menggapainya.
Begitupun dengan kasih sering sekali kita terkecoh bahkan sulit untuk membedakan cinta dan kasih itu sendiri. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik mengambil judul makalah Manusia dan Cinta Kasih, agar dapat membantu kita semua untuk lepas dari ketidak jelasan Cinta Kasih yang selalu menjadi bahan perenungan, diskusi, cerita yang tidak pernah ada akhirnya.
Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik yang pernah kita alami dalam hidup ini. Sangat disesali, orang pada umumnya masih bingung akan apakah cinta itu sesungguhnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfileman memperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu dititik beratkan pada perasaan dan cerita romantika.
Manusia disebut sebagai makhluk yang tidak lain adalah makhluk yang senantiasa menggunakan perasaannya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakankebaikan melalui tiap perbuatannya yang dilandasi cinta kasih. Manusia menjalani hidup sesuai dengan adab-adab yang diterapkan di lingkungan sekitar. Oleh karena itu manusia harus mampu memupuk cinta dan kasihterhadap satu sama lain. Maka dari itu kita harus mengenal lebih dekat bagaimana hubungan manusia dengan cinta kasih.





B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian cinta dan kasih ?
2.      Bagaimana cinta menurut ajaran agama ?
3.      Apakah yang dimaksud dengan kasih sayang ?
4.      Apakah yang dimaksud dengan kemesraan ?
5.      Apakah yang dimaksud dengan pemujaan ?
6.      Apakah yang dimaksud dengan belas kasihan ?
7.      Apakah yang dimaksud dengan cinta kasih erotis ?

C.    Tujuan
1.      Mendeskripsikan pengertian dari cinta kasih
2.      3.   Menjelaskan apa yang dimaksud dengan cinta menurut ajaran agama
3.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan kasih sayang
4.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan kemesraan
5.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan pemujaan
6.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan belas kasihan
7.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan cinta kasih erotis







BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Cinta Kasih

Pengertian cinta kasih dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwodarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Kata cinta selain mengandung unsur perasaan aktif juga menyatakan tindakan yang aktif. Pengertiannya sama dengan kasih sayang, sehingga kalau seseorang mencintai orang lain, artinya orang tersebut berperasaan kasih sayang atau berperasaan suka terhadap orang lain tersebut. Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan  perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan yang manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dan dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Seperti pada buku Seni Mencintai, Erich Form menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerimal dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan hal-hal yang paling penting dalam memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung hjawab, perhatian, dan pengenalan.
Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh  Dr. Sarlito W. Sarwono, dikatakan bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu: keterikatan. Keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, kalau janji dengan dia harus ditepati. Unsur yang kedua adalah keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan, sayang dan sebagainya. Unsur yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang,dan seterusnya.




2.2  Cinta menurut Ajaran Agama

Menurut beberapa orang yang berpendapat cinta akan lebih mudah dipahami tanpa dikaitkan dengan agama. Namun, dalam kenyataannya dalam hidup manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Bahkan cinta didengung-dengungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi dilain pihak, dalam praktek kehidupan, cinta sebagai dasar hidup jauh dari kenyataan. Atas dasar ini agama memberikan ajaran cinta kepada manusia. Tidak kurang seorang Nabi yang bernama Ibrahim yang mendapat kritik tentang cinta. Suatu saat Ibrahim mendambakan seorang anak. Setelah ahir anak yang dicintainya (Ismail), ternyata cinta Ibrahim kepada anaknnya dapat menggeser cintanya kepada PenciptaNya sehingga Tuhan mencobanya dengan menyuruh Ibrahim menyembelih anaknya. Perintah ini menimbulkan konflik dalam diri Ibrahim, siapa yang harus dicintai, Tuhan atau anaknya.
Dari cuplikan peristiwa ini memberikan indikasi kepada manusia bahwa cinta itu harus proporsional dan adil dan jangan lupa diri karena cinta. Untuk itu agama memberikan tuntunan tentang cinta. Berbagai bentuk cinta ini terdapat didalam al-qur’an.

1.      Cinta Diri

Kecenderungan manusia untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya. Hal ini menunjukan bahwa cinta terhadap diri sendiri yaitu menjaga diri sendiri dan melakukan hal yang bermanfaat untuk diri sendiri. Al-Qur’an telah menunjukan cinta alamiah yang dimiliki oleh manusia terhadap dirinya sendiri. melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.
“… Dan sekiranya kau mengetahui hal yang gaib, tentulah aku akan memperbanyak kebaikan bagi diriku sendiri dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan …”(Q.S 7:188). Demikian pula “Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan, tetapi jika mereka ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan” (Q.S 41:49). Manusia cinta pada dirinya agar terus menerus ikaruniai kebaikan, tetapi apabila ditimpa bencana, ia menjadi putus harapan.

2.      Cinta kepada Sesama Manusia

Dalam Al-Qura’an Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk saling mencintai kepada sesamanya. “Sesungguhnya orang-orang mukmim bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q : 49 :10). Dalam Al-Qur’an terdapat pujian bagi kaum Anshar karena rasa cintanya kepada kaum Muhajirin. Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang muhajirin) mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntun (Q : 59 : 9). Ciri cinta diantara sesama manusia menurut ajaran Islam ditandai dengan sikap yang lebih mengutamakan (mencintai) orang lain daripada dirinya sendiri.

3.      Cinta Seksual

Jika menyebutkan kata cinta maka sangat erat kaitannya dengan dorongan seksual. Hal ini dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berpikir.” (Q : 30 : 21). Dalam ayat lain “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diingini, yaitu wanita-wanita” ( Q : 3 : 14). Cinta seksual merupakan bagian dari kebutuhan manusia yang dapat melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami dan istri. Seks merupakan factor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.

4.      Cinta Kebapakan

Dorongan keibuan atau cinta ibu kepada anaknya, merupakan dorongan fisiologis. Artinya, terjadi perubahan-perubahan fisiologis dan fisis yang terjadi pada diri si ibu sewatu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Dorongan kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal ini tampak dalam cinta bapak kepada anaknya karena ia merupakan sumber kesenangan dalam kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggan, dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dalam kehidupan, dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia.
Hal ini nampak jelas pada cinta Nabi Yaqub a.s. kepada putranya, Yusuf a.s., yang membangkitkan cemburu adiknya dan dengki saudra-saudaranya yang lain. “. . . Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat) . . .” (Q : 12 : 8). Demikian pula nampak cintanya Nabi Nuh a.s. kepada putranya “Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah benar. Dan engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya” ( Q : 11 :45 ).

5.      Cinta kepada Allah

Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih, dan spiritual ialah dalam tanya kepada Allah dan kerinduann-Nya. Tidak hanya salat, pujian dan doanya, tetapi semua tindakan dan tingkah lakunya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridla-Nya. Dalam firman Tuhan “Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Alllah mengasihi dan mengampuni dosa-dosanmu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (Q : 3 : 31).
Cinta seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada segala sesuatu yang ada didalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, anak-anaknya, istrinya, kedua orang tuanya, keluarganya dan hartanya. “Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khwatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cinta daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dai) berijtihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S 9:24)
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan merupakan pendorong dan mengarahkannya kepada penundukan semu bentuk kecintaan lainnya. Cinta kepada Allah akan membut seseorang menjadi mencintai sesame manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta. Hal ini terjadi karena semua wujud dipandang sebagai manifestasi Tuhannya, sebagai sumber kerinduang spritualnya dan harapan kalbunya.

6.      Cinta kepada Rasul (Muhammad)

Cinta kepada rasul Muhammad merupakan peringkat kedua setelah cinta kepada Allah. Hal ini disebabkan karena rasul Muhammad kaum muslimin merupakan contoh ideal yang sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lain.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q : 68 : 4). Cinta kepada Rasul Muhammad ialah karena beliau merupakan suri teladan, mengajarkan Al-Qur’an kebijaksanaan. Muhammad telah menanggung derita dan berjuang dengan penuh tantangan sampai tegaknya Islam.

7.      Cinta kepada ibu-bapak (orang tua)

Cinta kepada ibu-bapak dalam ajaran agama Islam sangat mendasar menentukan ridla-tidaknya Tuhan kepada manusia. Sabda Nabi Muhammad saw. ‘Keridlaan Allah bergantung pada keridlaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan kedua orang tua pula” (Hadist Riwayat At-Turmudzy). Khusus mengenai cinta kepada kedua orang tua ini, Tuhan memperingatan dengan keras melalui ajaran akhlak mulia dan langsung dengan tatakramanya.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbut baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemelihraanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia. Rendahkanla dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S 17:23-24).
Seluruh uraian tentang konsep cinta menurut ajaran Islam memberikan kejelasan kepada kita bahwa makna cinta menurut ajaran agama berbeda dengan makna cinta menurut kajian filsafat. Konsep cinta menurut konsep agama sifatnya lebih realistis dan operatif, sedangkan dalam konsep filsafat gambarannya bersifat abstrak. Dalam agama, cinta adalah suatu dinamisme aktif yang berakar dalam kesanggupan kita untuk member cinta dan menghedaki perkembangan dan kebahagiaan orang yang dicintai. Apabila ada orang yang egois tak dapat mencintai orang lain, sesungguhnya ia sendiri tidak dapat mencintai dirinya sendiri.

2.3  Kasih Sayang

Dalam kamus umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S Purwodarminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Ada berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan yang disayangi. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan maka didalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, akan terancamlah kebahagiaan rumah tangga itu.Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anaknya yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah atau ibunya.
Bayi yang masih merah telah dapat mengenal suara atau sentuhan tangan ayah atau ibunya. Bagaimana sikap ibunya memegang atau menggendong telah dikenalnya. Hal ini dikarenakan dang bayi telah mempunyai kepribadian. Betapa mesra ibu itu menggendong anaknya sebagai bukti kasih sayang setulus hati. Sang bayi telah sanggup membalas kasih sayang sang ibu dengan meraba dagu ibu. Semua itu sebenarnya wajar, karena tugas seorang ibu adalah menyusui anaknya dengan kasih sayang yang tulus.
Gambaran seorang ibu yang sedang menyusui anaknya dapat disaksikan setiap hari di dunia manapun. Justru seorang ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas itu, akan dianggap salah oleh masyarakat, kecuali ibu itu sakit atau karena satu dan lain hal tidak dapat menyusui anaknya. Kasih sayang itu tampak sekali bila seorang ibu sedang menyusui atau menggendong bayinya itu diajak bercakap-cakap, ditimang-timang, dinyanyikan, meskipun bayi itu tak tahu arti kata-kata, lagu dan sebagainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula kelahiran anak tidak diharapkan, namun hal itu termasuk perkecualian. Kelahiran anak yang tidak diharapkan, umunya bukan lahir karena hasil kasih sayang. Kasih sayang yang berlebihan cenderung merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat kurang baik, karena umunnya anak yang dimanjakan menjadi anak yang sombong, pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua.

2.4  Kemesraan

Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam. Filsuf Rusia, Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH” menyatakan “jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain.” Pernyataan ini dijabarkan secara indah oleh William Shakespeare dalam kisah “Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia kisah Rara Mendut Pranacitra.
Yose Ortega Y Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan, “di kedalaman sanubarinya seorang pecinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obje cintanya Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”. Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pencinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam aliran energy cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintun bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.
Dibawah sorotan pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup. Kemampuan mencintai ini memberi nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita. Dari uraian tersebut terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya sendiri. Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Hubungan yang akrab dituangkan dalam bentuk seni misalnya seni pahat, seni patung, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari berbagai daerah mengenal bentuk tari kemesraan seperti tari “Karonsih” dari Jawa Tengah, tari “Gatotkaca Gandrung” juga dari Jawa Tengah. Tari “Merak” dari Jawa Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan. Dalam seni musik, lagu kemesraan hamper tiap menit kita dengar radio atau alat media elektronika yang lain. Lagu-lagu kemesraan antara lain : “cinta” ciptaan Rinto Harahap. “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi” ciptaan Tirto Saputro dan lain-lain. Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemesraan adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami-istri. Kemesraan merupakan bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreatifitas manusia untuk menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan sebagainya. Dalam lukisan seni budaya itu mengandung nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya, kebobrokan sosila, ketidakadilan, dan sebagainya. Semua itu wajib dikaji para cendekia agar dirinya tidak terkurung dalam bidangnya.

2.5  Pemujaan

Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, dikarenakan pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai, dan makan kehidupan yang sebenarnya. Penyebab hal itu terjadi adalah karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqan ayat 59-60 yang menyatakan “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian massa, kemudian Dia bertahta diatas singgasana-Nya. Dia Maha Pengasuh, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”.
Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mukminin ayat 98 dinyatakan “Dan aku berlindung kepadaMu ya, Tuhanku, dari kehadiran-Nya di dekatku”. Dan dalam injil surat Rum 1 : 2 berbunyi, “Muliakanlah Dia sebagai Allah atau mengucapkan syukur kepada-Nya”.
Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta untuk manusia. Kalau manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan atau sembahyang. Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain dinyatakan : “Apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah itu dipuja oleh segala yang ada di langit dan bumi …”

a.       Cara Pemujaan

Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi, dan situasi. Sembah yang ada di rumah, di masjid, di gereja, di pura, di candi bahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudan dari pemujaan kepada Tuhan atau yang dianggap Tuhan. Di alam semesta ini tidak ada seorang pun membantah bahwa Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Menentukan, Tuhan Maha Bijak, Tuhan Maha Kasih dan masih banyak maha lagi sifat Tuhan, tidak ada yang menyangkal. Dalam kehidupan sehari-sehari orang menyatakan. “Tuhan telah menggariskan” dan laing-lain. Itu semua pertanda orang mengakui kebesaran Tuhan.
Oleh karena itu, pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal itu berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaa, agar ditunjukan jalan yang benar, dan lain-lain. Bila setiap hari sekian kali manusia memuja kebesaran-Nya dan selalu memohon apa yang kita inginkan, dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umat-Nya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan adalah mutlak. Cinta yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Alangkah besarnya dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya, meskipun hanya sekejap.

b.      Tempat Pemujaan

Masjid, Gereja, Candi, Pura, dan lain-lain adalah tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhannya atau yang dianggap Tuhan. Di tempat-tempat itu dianggap Tuhan “berada”, karena itu orang Islam menamakan masjid “rumah Allah”, maka wajarlah tempat-tempat itu dibuat sebagus mungkin, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan karena tempat itu dianggap suci, maka tidaklah pantas dan tidak wajar bila tempat-tempat itu dipergunakan untuk segala keperluan, kecuali keperluan untuk membesarkan nama Tuhan.
Apabila masyarakat berhasil membangun tempat memuja, tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhan atau yang dianggap Tuhan sebesar dan seindah mungkin, maka banggalah masyarakat itu. Kebanggaan itu adalah kepuasan batinnya akan kemaksimalan cintanya, pengabdiannya kepada Tuhan. Bangsa Indonesia memiliki Borobudur sebagai tempat pemujaan agama Budha yang tidak ada duanya di dunia pada jamannya. Untuk itu bangsa Indonesia bangga, meskipun bangsa Indonesia yang tinggal di sekitar candi Borobudur pada waktu itu tidak lagi memeluk agama Budha. Hal ini merupakan bukti akan memaksimalkan bangsa Indonesia pada waktu itu akan cintanya kepada “Tuhannya”. Banyak pemeluk agama yang berusaha membangun tempat pemujaan sebesar dan sebagus mungkin.

c.       Berbagai Seni Manifestasi Pemujaan
Seperti dikemukakan di depan cinta menimbulkan daya kreatifitas pencintanya. Pengertian kreatifitas antara lain ialah mencipta. Dalam seni pahat banyak kita jumpai arca-arca yang menggambarkan dewa-dewa atau sesuatu yang dipujanya. Sudah tentu tinggi rendahnya hasil seni itu bergantung kepada kemampuan penciptanya. Seni tari pun ada pula yang bersifat mengagungkan nama Tuhan atau yang dianggap “Tuhan”. Misalnya tari Sanghyang Dedari dan tari Sanghyang Jaran di Bali adalah tarian bersifat keagamaan. Tari itu hanya ditarikan pada upacara agama dan tidak boleh ditonton oleh para turis, penontonnya sangat terbatas. Lagi pula tarian itu ditarikan pada dini hari tidak sembarang waktu.
Yang berhubungan dengan kepercayaan, di Jawa tidak diungkapkan dalam bentuk tari, melainkan dalam bentuk wayang kulit. Dalang wayang kulit dianggap orang yang lebih daripada orang awam. Dalam wayang kulit ini ada cerita yang hanya diceritakan atas dasar permintaan orang, bila orang itu “meruwat”. Orang meruwat maksudnya akan membebaskan anaknya dari bahaya. Anak yang perlu diruwat adalah anak tunggal, dua orang anak laki-laki semua, dua orang anak laki-laki dan perempuan, lima anak laki-laki semua, dan sebagainya. Dalam cerita ini, anak yang diruwat dibebaskan dari ancaman Batara Kala.
Dalam cerita Ramayana pada waktu gugurnya Kumbakarna, kepala Kumbakarna di “larung’ di Samudera Hindia (Laut Selatan) dengan suatu upacara. Itu semua menandakan adanya hubungan cerita dengan kepercayaan. Di barat (Yunani Kuno) tempat asal drama, semula drama diadakan berhubungan dengan upacara agama. Kambing yang dihias begitu rupa diarak beramai-ramai keliling kota, pasar, dan sebagainya. Bila perhatian orang cukup besar, maka arak-arak melambatkan diri atau berhenti untuk memberikan kesempatan pada seorang narrator untuk mengisahkan dewa yang rohnya dianggap masuk ke dalam badan kambing, yang diarak itu.
Di Bali adapula hal seperti itu, yaitu tari Sanghyang Jaran (kuda). Jaran tersebut dihias begitu rupa dan dikelilingi orang-orang yang sedang menari. Konon “jaran” tersebut akan kerasukan roh dewa yang dimaksud. Selain itu, di Bali ada pula drama seperti di Barat, yaitu drama ritual “Calon Arang”. Dalam seni musik, banyak juga didendangkan lagu yang bersifat mengagungkan nama Tuhan. Lagu-lagu keagungan Tuhan tidak hanya terdapat dalam agama Kristen atau Katholik saja, agama Islam, agama Hindu Bali, dan agama Buddha pun mengenal lagu-lagu keagungan Tuhan. Bahkan dalam lagu-lagu modern pun ada lagu yang mengagungkan nama Tuhan, seperti lagu “Tuhan” ciptaan Bimbo.
Dalam nyanyian tersebut jelas dilukiskan oleh Bimbo bahwa bila kita jauh kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan menjauh. Bila kita dekat, Tuhan pun akan mendekat. Jadi sebenarnya semua itu bergantung kepada kita. Jelas pula Bimbo melukiskan, bahwa Tuhan tempat pahala. Sudah tentu, bila kita mengenal dosa atau menyadari, bahwa perbuatan kita itu berdosa. Akhirnya hanya kepada-Nya kita mohon ampun atas segala dosa kita.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta membangkitkan daya kreatifitas. Pengertian dasar kreatifitas adalah mencipta, menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang misterius. Dalam mencari bentuk-bentuk ini pemujaan yang berupa sembahyang sebagai media berkomunikasi, membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah mungkin, mencipta lagu, puisi novel, film, dan sebagainya.

2.6  Belas Kasihan

Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta, pertama, cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhanyang diterangkan pada kegiatan belajar. Kedua, cinta philia ialah cinta kepada ayah ibu (orang tua) dan saudara. Dan ketiga, cinta eros/amor ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil. Disamping itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan perpaduan antara cinta agape dan cinta philia.
Cinta sesama ini diberikan istilah “belas kasihan” untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria wanita, cinta kepada Tuhan. Masih ada cinta lagi yaitu cinta kepada bangsa dan tanah air, tetapi pada kegiatan belajar 4 ini hanya dibicarakan cinta kepada sesama. Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah belas kasihan, karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Penderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, tua dan sakit-sakitan, yatim, yatim-piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.
Dari surat Al-Qalam ayat 4, maka manusia menaruh belas kasihan kepada oranglain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT. Perbuatan atau sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk belas kasihan, misalnya sanggupkah ia mengunggah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT. Perbuatan atau sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk belas kasihan, misalnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
Dalam esay “On Love” ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak mengandung unsur “pamrih”. Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang kepada pengemis agar mendapat pujian, itu berarti tidak ikhlas berarti ada tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat. Dalam, esay itu pula dijelaskan bahwa orang yang menaruh belas kasihan dan yang ditumpahi belas kasihan ada kebersamaan yang mendasar, maksudnya yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang dibelaskasihi.
Belas kasihan terhadap sesama pada hakikatnya adalah cinta kasih terhadap sesama, yang berarti melaksanakan ajaran agama. Bahwa kita wajib mencintai sesama berarti orang itu berbudi. Berbudi perbuatan yang dipuji oleh Allah SWT. Cara orang menumphakan rasa belas kasihan bermacam-macam sesuai dengan siapa yang dibelaskasihani dan bergantung kepada situasi dan kondisi. Belas kasihan dapat menimbulkan daya kreatifitas yang berarti orang yang dapat berbuat, berkarya, mencipta, mencari, menemukan dan lain-lain. Dalam seni budaya belas kasihan dapat berupa bermacam-macam bentuk seni : seni suara, seni puisi, seni sastra (prosa) dan lain-lain.

2.7  Cinta Kasih Erotis

Dalam cinta kasih persaudaraan merupakan cinta kasih antara orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakikatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya, disamping itu bahkan saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya. Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya. Pada hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat ekslusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.
Pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat diantara dua orang asing satu sama lain. Tetapi, seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakikatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing telah menjadi seorang yang diketahui secara intim, tak ada lagi rintangan yang harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan.
Pribadi yang dicintai telah dipahami orang seperti dirinya sendiri. Atau pribadi yang lain apabila orang dapat mengalami ketakterhitungan pribadinya sendiri, maka pribadi orang lain tidak pernah akan begitu biasa baginya, dan keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap hari. Tetapi, untuk kebanyakan orang, pribadinya seperti juga pribadi orang lain, mudah dipahami cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh dengan cara hubungan seksual. Karena mereka mengalami keterpisahan orang lain terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan mengadakan penyatuan fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut, demikian anggapannya.
Di samping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan diri pribadi, tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik perversi (busuk) yang kerap kali terdapat diantara sepasang pengantin yang rupa-rupanya hanya dapat berdekatan (intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada di tempat tidur atau bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama lain.
Tetapi semua jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk berkurang. Akibatnya ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan orang lain, dengan seorang asing baru yang kemudian pada gilirannya diubah lagi menjadi dangkal sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukkannya sekali lagi, untuk memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang baru itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. Ilusi-ilusi ini sangat mudah diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri orang.
Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimulasi, diransang oleh ketakutan karena rasa sepi, oleh keinginan untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, oleh keangkuhan, oleh keinginan untuk menyakiti, bahkan oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua ini dapat memberikan stimulasi yang sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah dapat dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan salah satu diantaranya. Oleh karena bagi kebanyakan orang keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang mencintai dan mengasihi yang lain, sedangkan yang sebenarnya terjadi ialah bahwa mereka menginginkan secara fisik.
Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Dalam hal itu, hubungan fisis tadi tidak memperlihatkan sifat-sifat yang rakus atau serakah dalam keinginannya untuk menaklukan atau untuk ditaklukkan, tetapi akan tercampur dengan kehalusan bertindak secara kemesraan. Apabila keinginan untuk penyatuan fisis tidak dirangsang oleh cinta kasih persaudaraan, ia hanya akan membawa kita kepada penyatuan yang bersifa orgiastis (pesta pora) dan sementara saja. Daya tarik seksual untuk sementara waktu menimbulkan khayalan penyatuan. Namun, tanpa cinta kasih, sebenarnya penyatuan ini membiarkan dua orang asing tetap berjauhan yang satu dari yang lain seperti sebelumnya. Kadang-kadang hal itu menimbulkan rasa malu diantara mereka, bahkan menimbulkan rasa benci yang satu terhadap yang lain, karena, apabila khayalannya telah hilang mereka lebih-lebih merasakan keasingan mereka yang satu terhadap yang lain. Kemesraan sama sekali bukan merupakan sublimasi naluri-naluri seksual seperti yang diyakini oleh Freud, melainkan merupakan hasil langsung dari cinta kasih kesaudaraan, dan terdapat baik dalam bentuk-bentuk cinta kasih fisis maupun psikis.
Dalam cinta kasih erotis terdapat eksklusifitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih kesaudaraan dan cinta kasih keibuan. Ciri-ciri eksklusif dalam cinta kasih erotis ini perlu diperbincangkan lebih lanjut. Kerap kali eksklusifitas dalam cinta kasih erotis disalahtafsirkan dan diartikan sebagai suatu ikatan hak milik. Sering kita jumpai sepasang orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan semacam egoisme dua orang mereka merupakan dua orang yang saling menemukan kesamaan dan yang telah mengatasi keterpisahannya dengan cara “satu individu mewakili dua individu”.
Mereka mempunyai pengalaman mengatasi keterpisahan. Namun, karena mereka sendiri terpisah dari sisi kemanusiaan itu, mereka tetap terpisah yang satu dari yang laun, dan tetap asing terhadap diri sendiri. Pengalaman mereka tentang penyatuan merupakan suatu ilusi. Cinta kasih erotis itu eksklusif hanyalah dalam arti bahwa seseorang dapat menyatukan dirinya secara lengkap dan intensif hanya dengan satu orang lain saja. Cinta kasih erotis mengeklusifkan cinta kasih terhadap orang-orang lain, tetapi bukan dalam arti cinta kasih kesaudaraa yang mendalam terhadap orang lain.
Cinta kasih erotis, apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan menerima pribadi orang lain (wanita ataupun pria) dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya. Pada hakikatnya, semua makhluk manusia itu identik. Kita semuanya merupakan bagian dari satu; kita merupakan satu. Karena demikian halnya, maka sebenarnya tak usalhlah diambil pusing siapa yang kita cintai dan kasihi. Cinta kasih pada hakikatnya merupakan suatu perbuatan kemauan, suatu putusan untuk mengikat kehidupan dengan kehidupan seseorang lain. Hal ini memanglah merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah memilih kodohnya sendiri, tetapi telah dipilihkan untuknya oleh orang lain, yang diharapkan ialah bahwa mereka akan saling mencintai dan mengasihi.
Dalam kebudayaan Barat jaman sekarang, gagasan ini ternyata tidak dapat diterima samasekali. Cinta kasih dianggap sebagai hasil suatu reaksi emosional dan spontan, seolah-olah kita dengan tiba-tiba terpau oleh perasaan yang tidak dapat dielakkan. Menurut pandangan ini, orang hanya memperhatikan ciri-ciri kedua individu yang bersangkutan, dan mengabaikan fakta bahwa semua laki-laki merupakan bagian dari Adam, dan bahwa semua perempuan merupakan bagian dari Hawa. Ada pula orang memandang bahwa faktor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.
Mencintai dan mengasihi seseorang bukan hanya merupakan perasaan yang kuat, tetapi juga merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji akan mencintai dan mengasihi untuk selama-lamanya. Perasaan itu dapat timbul dan tenggelam pula. Dengan memperhatikan pandangan-pandangan ini, orang dapat sampai kepada pendapat bahwa cinta kasih hanyalah merupakan perbuatan kemauan dan mengikat diri saja sehingga pada dasarnya tidak usah dipedulikan siapa-siapa kedua orang yang terlibat didalamnya. Apakah pernikahan itu diatur orang lain ataukah merupakan hasil pilihan individual, hal itu bukan menjadi soal. Yang terpenting sesudah pernikahan itu dilangsungkan ialah bahwa perbuatan kemauan seharusnya menjamin kelangsungan cinta kasih.
Pandangan ini rupa-rupanya mengabaikan ciri-ciri paradox hakikat manusiawi dan cinta kasih erotis.  Kita semuanya satu, namun tiap-tiap diantara kita merupakan makhluk unik yang khas yang tidak ada duplikatnya. Dalam hubungan kita dengan orang-orang lain, paradox itu juga berlaku. Sejauh kita merupakan satu, kita dapat mencintai dan mengasihi tiap-tiap orang lain secara sama dalam arti cinta kasih persaudaraan. Tetapi, sejauh kita dalam pada itu juga berbeda, cinta kasih erotis menurut adanya unsur-unsur sangat khas dan individual yang terdapat di antara beberapa orang tertentu saja, tetapi tidak semua orang.
Dengan demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain daripada perbuatan kemauan, kedua-duanya benar, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa kebenaran tidak terdapat pada yang satu, juga tidak pada yang lain. Oleh karena itu, gagasan bahwa hubungan pernikahan mudah saja dapat diputuskan apabila orang tidak bersukses di dalamnya, hubungan semacam itu, didalam keadaan bagaimana pun, tidak boleh diputuskan.






BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan  perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan yang manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dan dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Cinta dalam ajaran syariat agama juga memiliki peranan yang penting agar tidak terjerumus terhadap pengertian cinta yang salah. Dalam agama, cinta adalah suatu dinamisme aktif yang berakar dalam kesanggupan kita untuk member cinta dan menghedaki perkembangan dan kebahagiaan orang yang dicintai. Pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan.. Belas kasihan terhadap sesama pada hakikatnya adalah cinta kasih terhadap sesama, yang berarti melaksanakan ajaran agama. Bahwa kita wajib mencintai sesama berarti orang itu berbudi.
Kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam. kemesraan adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami-istri. Kemesraan merupakan bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreatifitas manusia untuk menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan sebagainya.Cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain daripada perbuatan kemauan, kedua-duanya benar, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa kebenaran tidak terdapat pada yang satu, juga tidak pada yang lain.

3.1 SARAN
Dengan diselesaikannya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Selanjutnya penulis juga  mengharapkan kritik dan saran guna peningkatan kualitas dalam penulisan makalah ini.






DAFTAR PUSTAKA

·         Drs. Supartono Widyosiswoyo, M.M. Ilmu Budaya Dasar. Ghalia Indonesia, Bogor, 2004
·         Ir. Drs. M. Munandar Sulaeman, M.S. Ilmu Budaya Dasar. PT Refika Aditama, 1998
·         Drs. Joko Tri Prasetya, dkk. Ilmu Budaya Dasar (lengkap). PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004
·         M. Habib Mustopo. Manusia dan Budaya. Kumpulan essay. Ilmu Budaya Dasar. Usaha Nasional, Surabaya,  2006